Saturday, January 17, 2026
spot_img
HomeTomohonRahmawati Ayuningsih Rompas: Kisah Inspiratif Perempuan Hebat

Rahmawati Ayuningsih Rompas: Kisah Inspiratif Perempuan Hebat

Penulis: Etzar Tulung

WALENEWS.COM, TomohonSaat itu, sore terasa teduh, sinar mentari perlahan redup menandakan malam gelap siap menyambut, di sebuah gedung olahraga yang terletak di samping Gedung Palang Merah Indonesia (PMI) kota Tomohon, rentetan suara telapak kaki menghantam lantai dojo membentuk ritme yang teratur. Di tengah barisan para kenshi (murid), seorang perempuan muda berdiri tegap, memunculkannya fokus, geraknya presisi.

Dialah Rahmawati Ayuningsih Rompas, sosok yang kini dikenal luas bukan hanya sebagai atlet Shorinji Kempo berprestasi, tetapi juga pemimpin mahasiswa, penggerak organisasi, dan profesional muda yang memegang jabatan penting di sebuah lembaga pelatihan nasional.

Perempuan yang akrab disapa Ayu, memiliki perjalanan yang tidak datar. Ia tumbuh di antara tuntutan, terbiasa hidup di ruang yang seringkali saling tumpang tindih. Ia berada di dunia organisasi, dunia kampus, dunia profesional, dan dunia olahraga beladiri.

Namun alih-alih kewalahan, justru Ayu menjadikan semua itu sebagai ruang pembuktian.Di usianya yang masih muda, Ayu telah menjejakkan kaki di tempat-tempat yang bagi sebagian anak muda baru sekadar impian.

Ia mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima), menjadi salah satu kader perempuan yang menonjol di Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kabupaten Minahasa, menjabat sebagai Pimpinan Wilayah Tomohon dan Minahasa di Creative Preneur Indonesia, serta berdiri sebagai salah satu atlet kempo perempuan terbaik di Sulawesi Utara.

Kisahnya adalah kisah tentang disiplin yang ditempa sejak dini. Tentang keberanian yang dipertahankan di tengah keraguan. Tentang seorang perempuan yang memilih berlari, ketika banyak seusianya masih sibuk belajar berdiri.

Inilah kisah inspiratif tentang Rahmawati Ayuningsih Rompas, perjalanan yang bergerak dari rumah ke podium, dari ruang kelas ke ruang rapat, dari organisasi mahasiswa ke panggung kompetisi, sebuah jalan penuh perjuangan, tekad, dan komitmen.

Awal Mula Perjalanan

Tidak semua anak berusia belasan memilih menghabiskan waktunya dengan latihan-latihan fisik yang keras. Namun Ayu menemukan rumahnya justru di situ. Ia mengenal Shorinji Kempo sejak usia sangat muda, awal mula yang sederhana, tetapi kelak menjadi pilar besar dalam hidupnya.

Kempo tidak hanya mengajarinya pukulan, tendangan, atau pola bertahan. Lebih dari itu, bela diri ini menanamkan nilai disiplin, kejujuran, keteguhan hati, dan kedewasaan berpikir.

Bagi Ayu, dojo atau tempat latihan adalah ruang pendidikan karakter, bukan arena kekerasan. Kesungguhannya bukan sekadar cerita motivasional, ia membuktikannya melalui pencapaian konkret.

Tahun 2018, ia resmi menyandang sabuk hitam pada usia 13 tahun, salah satu yang termuda di Sulawesi Utara. Status itu tidak datang sebagai hadiah, tetapi sebagai hasil kerja keras bertahun-tahun.

“Waktu itu saya tidak tahu apakah saya bisa. Tapi saya tahu kalau saya tidak mencoba, saya pasti tidak bisa,” ungkapnya tersenyum, seakan teringat masa-masa latihan keras menjelang ujian kenaikan tingkat.

Sejak itu, riwayat prestasinya terus bertambah. Hampir setiap kompetisi yang ia ikuti berbuah medali. Ayu dikenal sebagai salah satu kenshi perempuan yang tangguh, cepat, dan memiliki ketepatan teknik yang sulit ditandingi.

Kini, ketika (Porprov) Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) akan digelar minggu ini, ia kembali berada pada fase persiapan intens. Rutinitas latihannya tidak pernah berubah, tetap pada disiplin, kerja keras, dan penuh kesadaran bahwa setiap tetes keringat adalah bagian dari tanggung jawab pada dirinya sendiri.

Menemukan Ruang Kepemimpinan

Meski sibuk sebagai atlet, Ayu bukan tipe yang puas hanya dengan satu arena. Ketika memasuki dunia kampus, ia mengambil langkah yang bagi sebagian orang mungkin terlihat berlawanan arah, tapi Ayu justru terjun ke organisasi.

Ia bergabung dengan Kopri PMII Minahasa, sebuah wadah kaderisasi perempuan yang selama ini dikenal aktif mendorong peran perempuan dalam wacana sosial, politik, dan akademik. Di sinilah Ayu menemukan ruang untuk berbicara, berpendapat, dan membangun sensitivitas terhadap isu publik.

Baginya, organisasi bukan sekadar tempat diskusi. Ia melihatnya sebagai medan untuk melatih kepemimpinan. Dan itu terbukti. Ayu kemudian dipercaya menjabat sebagai Ketua DPM FBS. Jabatan itu bukan hadiah, melainkan amanah yang lahir dari rekam jejaknya sebagai mahasiswa aktif, komunikatif, dan tegas dalam bersikap.

Dalam posisinya sebagai Ketua DPM, Ayu tidak hanya mengurus administrasi atau acara kampus. Tetapi banyak tanggung jawab sebagai seorang pemimpin.

“Ketika saya telah dipercayakan menjadi pemimpin, itu berarti adalah melayani,” kata Ayu, Selasa, 18 November 2025.

Kalimat itu sederhana, tetapi mencerminkan karakter kepemimpinannya. Tegas, tetapi tidak keras. Mendengar lebih banyak daripada berbicara.

Menjadi Profesional Sejak Dini

Di luar dunia kampus, Ayu menjalani peran lain yang tak kalah besar. Ia menjabat sebagai Pimpinan Wilayah Tomohon dan Minahasa di Creative Preneur Indonesia, sebuah lembaga pelatihan public speaking dan pengembangan diri. Di usia yang bahkan belum menyentuh titik kemapanan profesional, Ayu sudah terlibat dalam keputusan-keputusan strategis lembaga.

Ia bertugas mengatur program, mengelola kegiatan, menjadi penghubung antara peserta dan lembaga, sekaligus menjadi representasi institusi di ruang publik.

Menjadi pemimpin di sebuah lembaga pengembangan sumber daya manusia menuntut banyak hal. Komunikasi yang baik, kemampuan manajerial, ketenangan menghadapi klien, bahkan profesionalisme yang harus terjaga.

Ayu menjalankan semuanya dengan kemampuan yang tampak jauh melampaui usianya.Di sinilah keunikannya lahir. Banyak anak muda sibuk mencari identitas, sosok Ayu justru sibuk menata perannya.

Masuk ke dunia profesional bukan hanya soal mencari pemasukan. Bagi dia, ini adalah fase pembuktian bahwa perempuan muda juga bisa menjadi aktor penting dalam dunia yang sering dianggap terlalu cepat dan keras.

Perempuan di Tiga Ruang

Jika hidup dianalogikan sebagai panggung besar, Ayu berdiri di tiga panggung sekaligus. Ada pendidikan, organisasi, dan olahraga. Dan ia memainkan ketiganya tanpa kehilangan presisinya.

Dalam dunia organisasi, ia belajar tentang kompromi dan pengambilan keputusan. Dunia profesional, ia belajar tentang tanggung jawab dan komunikasi. Dunia olahraga, ia dilatih disiplin dan keberanian.

Ketiganya saling melengkapi dan membentuk Ayu menjadi sosok yang komprehensif, kuat, terarah, dan berorientasi pada pencapaian. Tetapi menjadi perempuan di ruang-ruang ini tidak mudah. Pastinya keraguan dan komentar meremehkan seringkali hadir dalam bentuk yang tidak kasat mata.

Namun, Ayu menghadapinya bukan dengan perlawanan emosional, tetapi dengan hasil.

“Cara terbaik untuk menjawab keraguan adalah menunjukkan apa yang kita bisa,” ujarnya di sebuah kedai kopi.

Kalimat itu tidak hanya menjadi prinsip hidupnya, tetapi juga menjadi pesan bagi perempuan dan anak muda lain yang seringkali merasa dibatasi oleh lingkungan.

Di Balik Ketegasan, Ada Kesunyian

Di balik perjalanan yang tampak tegas, ada sisi Ayu yang jarang terlihat. Seperti banyak anak muda seusianya, ia pun merasakan lelah, jenuh, bahkan ragu. Ada hari-hari ketika ia bangun dengan tubuh yang belum pulih sepenuhnya akibat latihan malam sebelumnya.

Ada masa ketika urusan kampus menumpuk bersamaan dengan agenda organisasi dan pekerjaan. Tetapi Ayu membangun kebiasaan yang kuat. Ia tidak pernah membiarkan dirinya berhenti karena alasan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan manajemen diri.

Ia memisahkan waktu dengan rapi. latihan, belajar, rapat, kerja. Ia belajar untuk tidak mencampuradukkan satu kegelisahan ke ruang lain. Ia memahami bahwa setiap tanggung jawab memiliki ruangnya sendiri, dan setiap ruang membutuhkan fokus tertentu.

Ada kesunyian di balik itu semua. Kesunyian yang hanya diketahui oleh para atlet, para pemimpin, para pekerja keras. Kesunyian yang lahir dari tekad untuk tetap melangkah meski tidak ada yang melihat.

Porprov dan Episode Baru

Saat ini, Ayu sedang berada pada tahap final persiapan menjelang Porprov yang akan digelar Jumat minggu ini. Targetnya bukan hanya medali, tetapi performa terbaik yang bisa ia berikan.

Baginya, pertandingan bukan sekadar kompetisi. Ini adalah cara untuk mengukur perkembangan diri, cara menghormati proses, dan cara menjaga integritas latihan.

Ia tahu bahwa kemenangan tidak selalu datang, tetapi usaha tidak boleh hilang. Ia tahu bahwa medali bisa jatuh ke tangan siapa pun, tetapi dedikasi hanya milik mereka yang sungguh-sungguh.

Ayu akan datang ke Porprov bukan sekadar sebagai atlet. Ia hadir sebagai hasil dari perjalanan panjang yang membawanya pada ukuran kedewasaan yang jauh melampaui angka usianya.

Ketika ditanya apa pesan yang ingin ia sampaikan kepada perempuan muda di Minahasa, Tomohon, bahkan Sulawesi Utara, Ayu hanya tersenyum dan berkata “Jangan menunggu kesempatan. Ciptakan”.

Ia ingin perempuan muda tidak terpaku pada batasan sosial, tidak terdiam oleh komentar orang, juga tidak berhenti hanya karena jalan terasa lebih berat. Sosok Ayu menjadi bukti bahwa perempuan bisa hadir di tempat-tempat strategis. Bisa di ruang rapat, organisasi mahasiswa, panggung kompetisi, bahkan dunia profesional.

Ini bukan fenomena kebetulan. Ia adalah hasil pengasahan diri yang konsisten.

Generasi yang Tidak Menunggu

Perjalanan Ayu adalah bagian dari fenomena lebih besar dari generasi muda yang tidak lagi menunggu untuk “cukup umur” sebelum memimpin, berprestasi, atau bekerja.

Ia melangkah saat kesempatan datang. Bahkan seringkali justru menciptakan kesempatan itu sendiri. Ayu adalah contoh nyata dari gelombang baru anak muda yang menolak menjadi pasif.

Ia mengisi ruang yang tersedia, bahkan membuka ruang baru. Rompas mengambil peran, bukan menunggu diberi peran. Di tengah dunia yang semakin kompetitif, sosok sepertinya adalah gambaran harapan, bahwa generasi muda masih punya nilai, masih punya idealisme, masih memiliki komitmen untuk bekerja keras.

Perjalanan Belum Selesai

Kisah ini mungkin menceritakan banyak hal, namun perjalanan Ayu masih jauh dari kata selesai. Ia baru memulai fase hidup yang lebih luas. Masih banyak ruang yang bisa dimasuki, banyak tanggung jawab yang mungkin ia pikul, bahkan banyak panggung yang menantinya.

Namun satu hal jelas. Apa pun yang akan ia lakukan ke depan, jejak disiplin dalam dirinya akan tetap menjadi fondasi. Dunia profesional, dunia organisasi, maupun dunia olahraga telah membentuknya menjadi sosok yang terlatih untuk menghadapi tekanan dan perubahan.

Rahmawati Ayuningsih Rompas adalah kisah tentang seorang perempuan muda yang mengambil hidupnya dengan serius. Ia tidak memain-mainkan waktu, tidak menunda-nunda keinginan, tidak menggantungkan nasib pada keadaan.

Ia memilih bergerak. Dan dalam setiap langkahnya, sosok perempuan hebat ini mengajari banyak hal bagi anak muda di generasi sekarang, bahwa dunia tidak pernah menunggu mereka. Kitalah yang harus berani mengambil tempat.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Saturday, January 17, 2026
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments