HomeManadoDari Manado ke Korea: Kisah Chania Pitoy Menembus Batas Akademik di Negeri...

Dari Manado ke Korea: Kisah Chania Pitoy Menembus Batas Akademik di Negeri Gingseng

WALENEWS.COM, MANADO – Chania Angely Pitoy, mahasiswi semester 6 Program Studi Psikologi Kristen IAKN Manado, baru saja menyelesaikan program Academic Cultural Exchange di Korea Selatan yang berlangsung pada 30 April hingga 6 Mei 2026.

Fokus utama dalam kunjungan ini adalah pengabdian di bidang kesehatan mental, khususnya melakukan screening kesehatan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Setibanya di Korea Selatan, Chania dijemput oleh pemuka agama setempat dan menetap di sebuah shelter gereja di kawasan Pyeongtaek. Di sana, ia langsung berbaur dengan masyarakat dan memulai misi utamanya di Antioch International Community (AIC).

Di AIC, Chania melakukan asesmen terkait fenomena burnout yang dialami oleh para pekerja migran. Melalui sesi konseling, ia mendengarkan keluh kesah para pekerja yang rata-rata bekerja selama 12 jam dengan tekanan pola kerja “Palli-Palli” (cepat dan tepat).

“Banyak dari mereka yang merindukan rumah, namun harus bertahan demi upah yang lebih tinggi meskipun hak beribadah dan istirahat sangat terbatas,” ungkap Chania.

Pengalaman lapangan ini memberikan perspektif baru bagi Chania mengenai materi “Trauma & Recovery” yang ia pelajari di bangku kuliah. Ia menyadari bahwa burnout bukan sekadar rasa lelah fisik, melainkan luka jiwa yang tertahan akibat tanggung jawab besar.

“Sebelum menyembuhkan, kita harus hadir dan mendengar dulu keluh kesah mereka, sebelum akhirnya membantu mereka mengembalikan pemikiran positif,” tuturnya haru.

Selain misi kemanusiaan, Chania juga berkesempatan mengunjungi Hoseo University. Meski menjadi peserta termuda di antara mahasiswa program Doktor (S3), Chania mampu menunjukkan profesionalisme saat mengikuti rangkaian presentasi akademik.

Awalnya, ia mengaku sempat merasa ragu dan takut tidak bisa mengimbangi pola pikir para senior. Namun, setelah terlibat aktif dalam diskusi, ia menyadari bahwa kemampuannya setara dan mampu memahami materi yang dipresentasikan.

“Jangan takut menjadi yang paling muda di sebuah ruangan. Percayalah pada diri sendiri karena kita memiliki kemampuan adaptasi yang besar,” pesan Chania memotivasi.

Keaktifan Chania bahkan menarik perhatian para profesor di Hoseo University. Dalam sebuah diskusi santai, ia menyatakan niatnya untuk melanjutkan studi S2 di bidang Pastoral Konseling di universitas tersebut.

Selama satu minggu di Negeri Gingseng, Chania juga mengalami culture shock. Selain budaya kerja yang serba cepat (Palli-Palli), kebiasaan masyarakat Korea yang gemar berjalan kaki serta cuaca yang cenderung kering menjadi tantangan tersendiri baginya selama proses adaptasi.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan dampak positif bagi kesehatan mental para pekerja migran di Korea, tetapi juga memperkuat jejaring internasional IAKN Manado dalam bidang psikologi dan konseling.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Friday, May 15, 2026
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments