Wednesday, February 11, 2026
spot_img
HomeManadoManado Institute Tidak Lepas dari Penelitian, Pendidikan, Pengabdian, Publikasi

Manado Institute Tidak Lepas dari Penelitian, Pendidikan, Pengabdian, Publikasi

WALENEWS.COM, Manado – Manado Institute menggelar diskusi dengan tema “Manado Doeloe, Kini dan Masa Depan”. Kegiatan dilaksanakan di Malendeng Residence dan dihadiri para budayawan, sejarawan dan seniman dari berbagai lembaga dan komunitas. Sabtu (24/1/2026).

Direktur Manado Institute, Ivan Kaunang mengungkapkan alasan pendirian lembaga ini, pertama karena kelompok-kelompok studi di jaringan Mawale Movement rata-rata ada di “gunung”. Makanya kali ini kami bikin di Manado.

“Di kegiatan ini, bukan cuma jaringan Mawale yang kami ajak untuk berdiskusi bersama. Di beberapa grup (media sosial) yang berkaitan dengan seni budaya kami undang. Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), termasuk grup dosen FIB Unsrat kami undang. Dewan Kebudayaan Manado kami undang, Komunitas Seni Budaya Nusa Utara kami undang,” ujar Kaunang.

“Terima kasih karena jaringan yang diundang rata-rata datang. Termasuk teman-teman dari Talaud dan Sangihe. Ini penting, sebab Manado hari ini kan bukan hanya orang-orang Minahasa, kita sangat beragam.

Jaringan kita kebanyakan memakai Minahasa di “ekor” sebagai nama komunitas atau kelompok studi, kami ini kami sengaja menggunakan kata Manado. Tentu bukan karena hanya untuk sekadar berbeda,” ungkapnya.

Kedua, kenapa institute? Karena sesuai hasil kesepakatan teman-teman yang terlibat dalam diskusi awal, gunakan kata itu. Karena aktivitas kita selain diskusi, mengkaji sesuatu, menganalisis sesuatu, memberi pendapat, dan lain sebagainya.

Kaunang mengatakan, Manado Institute juga lahir dari perasaan-perasaan bahwa masih perlu ada kajian-kajian fokus tentang Manado yang masih sangat banyak.

“Institut kan itu sekolah, jadi mengkaji banyak hal. Kalau bicara Manado bukan hanya Minahasa, ada suku-suku bangsa lain, multikultur. Ada Tionghoa, Arab, Ternate, Gorontalo, Bajo, Bugis, macam-macam yang ada di sini,” kata Kaunang.

“Kemudian ada banyak aspek hitoris, budaya yang perlu juga dikaji, yang mana perkembangan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) hari ini sudah post, kita kadang-kadang sudah lupa dari akar sejarah. Jadi Manado Institute tidak akan lepas dari penelitian, pendidikan, pengabdian, publikasi,” jelasnya.

Lebih lanjut, pertemuan pertama sebagai launching, untuk memberitahukan kepada teman-teman yang bergelut dalam bidang yang sama tentang kami dan aktivitas kami saat ini dan nanti.

“Harus diakui, minat kita ini sangat menunjang banyak hal, termasuk karir kita masing-masing. Kita yang senang membaca, menulis, berdiskusi, berwacana, tentu makin bergembira dan bersemangat kalau ada ruang-ruang baru lagi untuk kita,” kata Kaunang.

“Kita kan boleh dikata sekolah di luar kampus. Kalau kampus terlalu formal. Nama Manado bukan mau menjelaskan bahwa fokus kita hanya soal Manado,” tegasnya.

Kaunang pun menekankan soal diskursus Manado butuh perspektif baru.

“Saya setuju dengan beberapa teman yang hadir berdiskusi bersama, diskursus Manado butuh perspektif baru karena kita lihat hari ini ada banyak orang menulis tentang Manado, Minahasa atau Sulawesi Utara, itu kemudian dipublish, menjadi informasi publik yang selalu ditulis-tulis tapi belum berarti sudah benar. Dalam aspek sejarah itu disebut sejarah publik, tapi dalam aspek historis itu belum tentu benar. Walaupun ada yang bilang kalau sudah diulang-ulang berarti sudah betul. Tidak demikian tentu kalau dilihat dari aspek sejarah kritis,” ucap Kaunang.

Menurutnya, Manado terus berkembang, makin majemuk, sehingga perlu juga memberi persepktif baru. Perlu memberikan makna dan nilai baru ketika kita mengkaji berkaitan dengan lampau. Karena itu, topik diskusi hari ini walaupun sederhana tapi sangat luas, “Manado: Dulu, Kini dan Masa Depan”.
Salah satu program awal kami adalah menulis tentang Manado seperti tema diskusi.

“Kami berharap teman-teman yang berkeinginan untuk menulis tentang Manado, bisa menulis apa saja tentang Manado. Ini masih luas, nanti berikut kita fokus pada aspek-aspek tertentu untuk dikaji,” pinta Kaunang.

Ia menambahkan, Fokus kerja-kerja kebudayaan Manado Institute, untuk yang pertama kajian-kajian mengenai Manado pada umumnya. Bicara Manado tentu bicara Minahasa, mendudukkan kembali persoalan-persoalan sosial berkaitan dengan Manado, sejarah multikultur, etnik tertentu sekaligis pengembangan kebudayaan daerah, kebudayaan lokal di sini.

“Sekali lagi, Manado cukup terkenal tapi untuk eksplor daerah kita dalam tulisan-tulisan masih kurang. Kita juga menyadari, kalau bikin buku, masih beredar di kalangan terbatas. Kemarin kami dan Denni Pinontoan diskusi publik di media, masih banyak yang bertanya soal tradisi pigura. Buku sudah ditulis, tapi karena penyebarannya terbatas. Kalau beredar masif, mungkin pertanyaan tidak akan banyak seperti itu,” pungkasnya.

Sementara Greenhill Weol, Sekretaris Manado Institute menambahkan ada tiga ruang kerja atau ruang fokus Manado Institute.

“Pertama, kebudayaan. Kedua, sejarah dan ketiga seni. Itu tiga ruang yang sengaja dan secara sadar dipilih menjadi fokus,” tutur Weol.

“Topik-topik yang lain kan bisa ditarik ke kebudayaan, maha luas,” tandasnya.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wednesday, February 11, 2026
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments