WALENEWS.COM, Tutuyan – Persoalan lingkungan dan ketersediaan air bersih di wilayah Kotabunan dan Bulawan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), kembali menjadi perhatian warga. Perbincangan mengenai kondisi ini turut menyeret pembuat video yang mengangkat persoalan itu ke ruang publik, setelah dirinya disebut sebagai provokator.
Di tengah polemik tersebut, warga justru meminta perhatian diarahkan pada persoalan yang mereka hadapi. Yasaluna Uningan, menyoroti keberadaan limbah di sekitar jaringan pipa air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat di sejumlah desa.
“Tu pembuktian video lalu itu provokator? Kalu dia objektif, coba dia pi vidio le itu limbah yang dibuang sembarangan di atas pipa air minum yang digunakan ribuan masyarakat enam desa Kotabunan dan Bulawan. Belum yang dibuang ke sungai,” kata Yasaluna, salah seorang warga sekitar, Rabu (26/8/2026).
Menurut keterangan warga, persoalan jaringan air bersih bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan pasokan. Mereka juga mengkhawatirkan kondisi pipa yang disebut telah mengalami sejumlah kerusakan dan diduga dimanfaatkan untuk kepentingan aktivitas pertambangan.
Salah seorang warga Bulawan, R. Mamonto, menyebut terdapat bagian pipa air yang diduga sengaja dibuat lubang oleh penambang tanpa izin (PETI) untuk memasukkan selang.
“Apalagi pipa aer PAM yang dorang so ajar kase lubang ba cok akang selang,” ujar Mamonto dalam komentar pada postingan, Senin (26/8/2026).
Keluhan lebih lanjut disampaikan Yasaluna Uningan. Selasa (1/9/2026), ia menyoroti risiko yang dapat muncul apabila jaringan pipa mengalami kebocoran dan berada di sekitar lokasi pembuangan limbah.
“Yang paling bahaya saat ini takutnya ada pipa yang bocor. Kong napa so enteru orang luar pe rendaman deng tong di atas pipa air minum masyarakat enam desa,” jelasnya.
Sementara itu, Uningan, yang juga warga Bulawan Dua, mengungkapkan kondisi pasokan air yang menurutnya semakin sulit diperoleh masyarakat. Ia mengatakan, jaringan dari bak penampungan menuju wilayah tempat tinggalnya sudah tidak lagi mengalirkan air.
“Pencemaran aer. Torang di Bulawan Dua ini so susah skali aer, sementara ini pipa aer dari bak penampungan so nyandak ada, so putus. Pa depe pipa memang so nyandak ada aer, so kering. Karena dorang so se lubang kong ja cok di bak rendaman pa dorang,” ungkap Yasaluna.
Ia juga mengungkapkan adanya kekhawatiran terhadap kemungkinan limbah masuk ke jaringan pipa. Terlebih, menurutnya, terdapat beberapa titik pipa yang berada di sekitar aliran buangan air limbah.
“Tu lalu lagi ada beberapa kali tu depe pipa so ta isi di buangan aer limbah. Kalo ujan ja nae aer kong ja ta maso di dalam pipa-pipa sambungan yang dorang ja pasang,” katanya.
Kondisi itu membuat warga harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Yasaluna menyebut air sumur kini lebih banyak digunakan untuk keperluan rumah tangga, sementara kebutuhan konsumsi dipenuhi dengan membeli air isi ulang.
“Khawatir, karna itu aer yang torang ja minum, sedangkan aer tanah saja di sini belum tantu aman. Air tanah yang torang ja pake momasa deng minum akang belum tentu aman. Sekarang torang aer bor pake ba cuci piring, kalo minum, beli aer isi ulang,” tuturnya.
Ia mengaku warga semakin berhati-hati menggunakan air sumur sebagai sumber air minum, karena khawatir telah terjadi pencemaran di lingkungan sekitar.
“So tako mo minum aer sumur lagi, karena takutnya so tercemar lagi,” ujarnya.
Yasaluna juga mempertanyakan sejauh mana dampak buangan limbah terhadap lingkungan sekitar, termasuk kemungkinan aliran pencemar yang telah mencapai badan air hingga kawasan pesisir.
“Mo bilang lagi nyandak sampe di sungai? Depe aer sampe so warna bagitu? So sampe di pante,” katanya.
Warga berharap persoalan tambang Panang tidak berhenti pada perdebatan mengenai siapa yang merekam atau menyebarluaskan informasi. Mereka meminta kondisi jaringan air bersih diperiksa secara langsung, termasuk memastikan keamanan sumber air, kondisi pipa, serta dugaan masuknya limbah ke sekitar jaringan yang digunakan masyarakat.
Pemeriksaan dari instansi terkait dinilai penting untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan sekaligus memberikan kepastian kepada masyarakat mengenai keamanan air yang mereka gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.


