WALENEWS.COM, TOMOHON – Industri perfilman tanah air akan segera dihibur oleh film komedi terbaru berjudul Free Wifi yang siap tayang serentak di bioskop mulai 23 Juli mendatang. Di balik layar film ini, ada sosok perempuan inspiratif asal Tomohon yang menjadi motor penggeraknya.
Ia adalah Habelana Lucia Goni, SE., MM., CIERM, atau yang akrab disapa Lucy Goni. Selama ini, masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) lebih mengenalnya sebagai pelaku usaha serta salah satu pemangku kepentingan (stakeholder) pariwisata yang menjabat sebagai Kepala Badan Promosi Pariwisata Kota Tomohon dan Ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Sulut. Namun, belum banyak yang tahu bahwa Lucy telah menapaki industri perfilman nasional sejak tahun 2013 melalui rumah produksi KPRO Film.
Perjalanan Lucy di dunia sinema bukanlah kemarin sore. KPRO Film mengawali kiprahnya lewat produksi Film Televisi (FTV) yang bekerja sama dengan Trans TV. Dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, rumah produksi ini telah melahirkan sekitar 200 judul FTV.
Free Wifi sendiri menjadi film layar lebar ketiga yang diproduserinya. Sebelumnya, KPRO Film sukses memproduksi Surga Telapak Ibu dengan latar lokasi di Padang, serta Tommy n Jerry yang sebagian besar proses produksinya juga berlokasi di Sulawesi Utara.
Bagi Lucy, memboyong produksi film nasional ke Sulawesi Utara bukanlah perkara bisnis semata. Ada misi besar dan rasa cinta mendalam terhadap tanah kelahirannya yang menjadi bahan bakar utama.
“Saya ingin daerah sendiri menjadi panggung utama. Lewat film, kami bisa memperkenalkan keindahan Sulawesi Utara sekaligus memberi ruang bagi talenta lokal untuk berkembang,” ujar Lucy.
Komitmen tersebut dibuktikan secara totalitas dalam film Free Wifi. Lucy memercayakan posisi krusial kepada putra daerah: Donny Mamahit bertindak sebagai sutradara, dan EM Lintong sebagai Director of Photography (DOP). Lebih luar biasanya lagi, sekitar 90 persen pemain dalam film ini merupakan talenta asli Sulawesi Utara.
Secara blak-blakan, Lucy mengakui bahwa dari sisi finansial, memproduksi film di Pulau Jawa sebenarnya jauh lebih murah ketimbang harus memboyong puluhan kru dan peralatan ke Sulawesi Utara. Namun, bagi Lucy, nilai promosi daerah dan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal jauh lebih berharga dibanding sekadar efisiensi biaya.
Kecintaan yang besar pada daerah ini pula yang mendasari Lucy menerima tanggung jawab sebagai Kepala Badan Promosi Pariwisata Kota Tomohon. Tugas berat ini bahkan ia jalankan tanpa bayaran maupun topangan anggaran dari APBD.
“Semua dilakukan dengan biaya sendiri dan bantuan dari teman-teman untuk promosi. Ada yang sempat curiga saya punya kepentingan lain, padahal motivasinya sederhana, yaitu cinta kepada kampung halaman,” ungkap perempuan yang juga dikenal sebagai pengusaha konstruksi dan pemilik sejumlah destinasi kuliner estetik di Sulut (seperti Lupier Mokupa, Kitakami, dan Warong Bakar-Bakar Tomohon) tersebut.
Melalui rilisnya film Free Wifi, Lucy berharap karya ini tidak hanya menjadi sarana hiburan yang mengocok perut penonton, tetapi juga menjadi media promosi yang efektif untuk pariwisata, budaya, dan potensi SDM Sulawesi Utara. Ia bermimpi, ke depan akan semakin banyak sineas nasional yang melirik Bumi Nyiur Melambai sebagai lokasi syuting utama mereka.


