Wednesday, September 2, 2026
spot_img
HomeBolaang Mongondow RayaPencemaran Lingkungan Hantam Berbagai Sektor Kehidupan Masyarakat Boltim

Pencemaran Lingkungan Hantam Berbagai Sektor Kehidupan Masyarakat Boltim

WALENEWS.COM, Tutuyan –  Dugaan pencemaran lingkungan di lingkar tambang Panang dan Benteng, Kotabunan terus menjadi polemik di masyarakat. Kondisi itu disebut telah berdampak pada banyak sektor, termasuk ekonomi masyarakat di Kotabunan dan Bulawan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Salah satu persoalan yang dialami warga akibat hal tersebut terlihat dari ketersediaan ikan. Yasaluna Uningan, warga Bulawan, mengatakan ketersediaan ikan dari perairan sekitar kini semakin berkurang. Kondisi tersebut membuat pasokan ikan yang dijual kepada masyarakat lebih banyak didatangkan dari luar wilayah.

“Pokoknya Kotabunan, Bulawan ini samua so stengah mati ikang. Ikang-ikang yang jajual di sini so bukang ikang asli dari sini, so kurang dari luar-luar punya. Ikang-ikang so mahal. Orang kurang jaga babeli di Ratatotok, Belang dengan Bitung,” tutur Yasaluna, Selasa (1/9/2026).

Dugaan pencemaran pertambangan tanpa izin (PETI) di Kotabunan, telah membuat air dan tanah tercemar. Ikan dan udang hampir tak lagi ditemukan di sungai, para nelayan harus melaut jauh untuk mencari ikan. Konsekwensinya, biaya melaut makin tinggi, itupun kalau dapat ikan. 

Menurutnya, perubahan tersebut turut berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Harga ikan yang meningkat membuat warga harus mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan kebutuhan pangan tersebut.

Yasaluna menduga kondisi lingkungan perairan yang mengalami perubahan dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Ia menyebut kerusakan terumbu karang dan biota laut lainnya sebagai persoalan yang harus ditelusuri lebih lanjut.

“Sampe ekonomi torang susah sekarang. Karena mungkin pencemaran dari limbah ini so sampe merusak karang deng lain-lain,” katanya.

Ia menilai, dugaan pencemaran tersebut tidak seharusnya hanya dilihat dari sisi lingkungan, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonomi pada sumber daya alam.

Di sisi lain, Yasaluna mengatakan pembahasan mengenai persoalan lingkungan dan pertambangan di media sosial masih menimbulkan perbedaan pendapat di tengah masyarakat. Sebagian warga tetap mempertahankan aktivitas pertambangan sebagai sumber penghasilan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan berarti masyarakat harus menghentikan seluruh kegiatan pertambangan.

“Torang so banyak menyuarakan ini di sosmed, cuma tanggapan masyarakat lagi berbenturan. Dorang bilang dorang jaga ba tambang lagi. Cuma torang bilang silahkan ba tambang, cuma perhatikan tu lingkungan. Karena nyandak samua masyarakat Bulawan deng Kotabunan itu jaga ba tambang,” ujarnya.

Yasaluna berharap, aktivitas ekonomi dan pertambangan tetap dapat berjalan dengan memperhatikan pengelolaan lingkungan. Ia menilai sistem pengolahan limbah perlu diperbaiki agar tidak menimbulkan dampak terhadap masyarakat maupun ekosistem sekitar.

“Harapan ke depan tentunya ada pengolahan limbah yang lebe bae. Kalo pun perusahaan yang nanti mo ator, ndak apa, pasti lebe bagus. Karena dorang perusahaan berizin lebe tau depe cara,” tuturnya.

Menurutnya, perlindungan terhadap lingkungan penting dilakukan agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak semakin tertekan dan sumber daya alam yang menjadi bagian dari kehidupan warga tetap dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Terpenting, masyarakat jauh dari ancaman keselamatan akibat limbah dari tambang yang tidak bertanggung jawab.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments