WALENEWS.COM, MANADO – Merespons kondisi udara yang memburuk akibat kepulan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Badan Pengurus Cabang (BPC) Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Manado menggelar aksi kemanusiaan dengan membagikan 1.000 masker gratis kepada masyarakat dan pengguna jalan di kawasan Manado Town Square (Mantos), Rabu (14/10/2026).
Aksi ini merupakan bentuk kepedulian GMKI Manado terhadap kesehatan masyarakat di tengah kondisi udara yang dikhawatirkan berdampak pada aktivitas dan kesehatan warga. Asap yang menyelimuti Kota Manado diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sulawesi Utara serta asap kiriman dari daerah lain.
Sekitar 30 pengurus dan kader GMKI Manado terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka turun langsung ke lapangan untuk membagikan masker kepada masyarakat, mulai dari pejalan kaki hingga pengendara sepeda motor dan mobil yang melintas di sekitar lokasi.
Ketua BPC GMKI Manado, Prayer Abraham Alvaromeo Paruntu, mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Ketika udara yang kita hirup mulai mengkhawatirkan, kita tidak boleh hanya diam dan menunggu keadaan membaik. GMKI harus hadir, bergerak, dan melakukan sesuatu yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Seribu masker ini mungkin tidak menyelesaikan persoalan karhutla, tetapi ini adalah bentuk kepedulian kami untuk membantu melindungi warga di tengah kondisi yang sedang terjadi,” tegas Prayer.
Menurutnya, persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, serta tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian alam.
Ia menambahkan, gerakan kemanusiaan tidak harus selalu dimulai dari langkah besar. Kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang menjawab kebutuhan masyarakat.
“Bagi kami, gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti pada kritik dan diskusi. Ketika masyarakat menghadapi persoalan, mahasiswa harus mampu hadir di tengah mereka. Hari ini kami membagikan masker, tetapi pesan yang ingin kami sampaikan jauh lebih besar: kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab kita bersama, dan persoalan lingkungan tidak boleh dianggap sepele,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris BPC GMKI Manado, Jeremy Mailili, menegaskan bahwa pembagian masker tersebut merupakan wujud tanggung jawab sosial organisasi mahasiswa dalam merespons persoalan yang tengah dihadapi masyarakat.
Menurut Jeremy, mahasiswa harus mampu hadir dan mengambil bagian dalam menjawab persoalan nyata yang terjadi di tengah masyarakat. Terlebih, ketika masalah lingkungan mulai berdampak pada kesehatan dan aktivitas sehari-hari warga.
“Kami tidak ingin GMKI hanya hadir ketika menyampaikan kritik atau berbicara dalam forum-forum diskusi. Ketika masyarakat menghadapi situasi yang mengkhawatirkan seperti sekarang, kami juga harus hadir dengan aksi nyata. Seribu masker ini adalah bentuk kepedulian kami. Mungkin sederhana, tetapi kami ingin masyarakat tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi kondisi ini,” ujar Jeremy.
Ia juga menekankan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kesadaran dan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat hingga elemen mahasiswa. Menurutnya, persoalan lingkungan harus mendapatkan perhatian serius karena dampaknya dapat meluas hingga mengancam kesehatan masyarakat.
Jeremy berharap aksi pembagian masker ini tidak berhenti sebagai kegiatan sosial semata, tetapi juga mampu mendorong kepedulian yang lebih luas terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat di Sulawesi Utara.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan kondisi kesehatan, mengurangi paparan asap sebisa mungkin, serta mengikuti arahan dan imbauan dari pihak berwenang selama kondisi udara belum membaik.
Melalui aksi pembagian 1.000 masker tersebut, GMKI Manado menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan semangat pelayanan dan keberpihakan kepada masyarakat melalui tindakan nyata.
Di tengah kepungan asap yang menyelimuti Kota Manado, GMKI memilih untuk bergerak dan hadir di tengah masyarakat. Bagi organisasi mahasiswa tersebut, kepedulian bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab yang harus diwujudkan melalui aksi nyata, terutama ketika masyarakat membutuhkan perhatian dan bantuan.


